hoahhh... diantara laporan SPA yang nunggu untuk dikerjakan, aku pengen melegakan pikiran dulu,
istirahat sejenak....^_^
diantara pikiran yang kusut, dan hati yang mulai lemah, mencari cara untuk meng'upgrade' semangat lagi...
Membuka file2 semester awal kuliah, ada tugas yang memberiku suntikan semangat lagi,
tugas ISBD membuat artikel,
DREAM OF BE AN ARCHITECT
Tentang
definisi arsitektur berkaitan dengan lingkungan binaan.
Manusia
manghabiskan sebagian besar waktunya di dalam lingkungan buatan nya sendiri.
Manusia dilahirkan, hidup, beribadah, tidur, makan, menyayangi, membina
keluarga, bekerja, belajar, menjadi tua, bahkan wafat di dalam ruangan.
Lingkungan binaan manusia ini dalam bentuk rumah tinggal, sekolah, mesjid,
rumah sakit, pasar, terminal, kantor, pabrik, dan sebagainya, adalah apa yang
kita sebut sebagai arsitektur.
Jadi, arsitektur sebagai lingkungan binaan adalah,
“Rancang wadah aktivitas berupa ekspresi
dari pemikiran kontekstual terhadap beberapa hal (iklim, sosial, budaya,
tempat, waktu, teknologi, dan ekonomi) hingga membentuk suatu pemecahan berupa citra (nilai dan kualitas) dan matra (bentuk),
yang diwujudkan perancang wadah tersebut secara tepat guna sesuai kebutuhan serta pemahaman pengguna wadah aktivitas.
Hasil akhir dari perancangan wadah aktivitas adalah untuk peningkatan kualitas hidup pengguna.
Jika
Saya Menjadi Seorang Arsitek
Pada awalnya
saya tak mempunyai kepastian cita-cita dan tujuan dalam hidup. Namun dalam
pembelajaran yang saya jalani di teknik Arsitektur (walau perjalanan ini masih
terbilang singkat), telah menempa dan membentuk suatu citra dan pemahaman akan
pentingnya sebuah tujuan hidup. Akhirnya, seiring berjalannya waktu, tujuan
hidup saya mulai tergambar dan menjadi nyata. Karena saya mahasiswa arsitektur,
maka saya akan menjalani hidup ini dengan arsitektur. Jika saya menjadi seorang arsitek, bagi saya pada dasarnya adalah
pernyataan tentang cita-cita, tujuan hidup, dan konsepsi dari apa yang ingin
saya capai.
Arsitektur
(bahasa Yunani; Arkhe, sesuatu yang asli, awal, utama otentik; Tektoon=
berdiri,stabil, kokoh, stabil statis; Arkhitekton= pembangunan utama, tukang
ahli bangunan) dalam arti terbatas maupun Wastu (bahasa Sansekerat Vasthu=
norma, tata bangunan, tata ruang, tata seluruh pengejawantahan yang berbentuk)
dalam arti total komprehensip selalu datang dari awal, dari inti, galih,
jatidiri, pandangan semesta, sikap hidup serta kebudayaan bangsa; dari galaksi
keyakinan dasar suatu komunitas, konkrit, historis. Tidak abstrak, tidak
seragam untuk segala bangsa maupun kurun zaman, hidup menjalani dinamika dan
selalu dalam kancah pembentukan serta pahit manis perjuangan, seperti bahasa.
Sebab berarsitektur, mengarsitektur, berwastu, dan mewastu adalah sebentuk
bahasa manusia. Ini bermakna bila kita berarsitektur, kita berbahasa dengan
ruang dan gatra, dengan garis dan bidang, dengan bahan material dan suasana
tempat, sudah sewajarnyalah kita berarsitektur secara budayawan dengan nurani
dan tanggung jawab penggunaan bahasa arsitektural yang baik.
Jika saya menjadi seorang arsitek,
saya ingin “menerjemahkan” dengan
baik sebentuk bahasa manusia
(masyarakat) berkaitan dengan arsitektur yang pada dasarnya hanya tersimpan
dalam pemikiran mereka tanpa bisa menggambarkan dan merealisasikannya. Sebagai
arsitek, saya ingin membentuk arsitektur
yang saya rancang menjadi tepat guna
(berfungsi) dan memiliki estetika
(keindahan) yang didasari atas kejujuran
dan kewajaran, karena “keindahan adalah kejujuran”.
Arsitektur
adalah proses menciptakan ruang dan lingkungan yang mampu berfungsi dalam
kondisi alam. Alam kodrat yang buta (natur) denagn disentuh oleh tangan manusia
dan diolah dengan akal budinya dalam kerangka nilai manusiawi berkembang
menjadi kebudayaan (kultur) dalam bentuk Arsitektur.
Jika saya menjadi seorang arsitek,
saya ingin merancang untuk lingkungan,
mencoba untuk mensubstraksi lingkungan dengan pola hidup menjadi sebuah desain.
Saya ingin mematahkan pemeo, bahwa “kerusakan alam adalah akibat dari dosa-dosa
arsitek”. Sebenarnya pelestarian lingkungan hidup yang paling tepat adalh dengan
tak membangun apa-apa. Namun karena kita memang harus melaksanakan pembangunan,
kita harus memulai berfikir kreatif dengan membangun tanpa memberikan dampak
buruk bagi lingkungan. Saya ingin membangun dengan memperhatikan efesiensi dan
keefektifan pengguna rancangan. Menciptakan lingkungan binaan yang hijau dan kontekstual denagn lingkungan serta menyesuaikan denagn nilai-nilai lokalitas dan tradisional warisan sejarah. Semua ini
juga demi pembangunan berkelanjutan.
“Struktur agung
dirancang denagn satu tujuan, bertahan mneghadapi waktu. Arsitek yang serius
tahu hal ini, jika ia ingin menonjol, ia harus berkonsultasi dengan alam dan
memperhatikan cahaya.” Arsitektur sama dengan kedudukan pepohonan, sungai,
batu, sawah, patung, manusia, dan apa saja yang ada di jagad ini adalah salah
satu “sekrup” yang ikut memutar dan dengan demikian menjaga kelestarian
keseimbangan jagad.
Jika saya menjadi seorang arsitek,
saya ingin membentuk sebuah arsitektur yang tidak hanya dilihat
sebagai objek, tapi sebagaimana seharusnya yaitu sebagai “living Milieu” atau sebagai interaksi sosial alam dan
masyarakat di sekitar arsitektur itu.
Pada hakekatnya,
arsitektur adalah hidup. Sebagai bagian dari lingkungan hidup, arsitektur dan
masyarakat penciptanya saling hidup menghidupi. Arsitektur selalu berubah,
tumbuh, berkembang, dan berganti, sesuai dengan kebutuhan dan kesesuaian denagn
manusia dan zamannya.
Tujuan
arsitektur dapat dipersepsikan “mengapa manusia menciptakan lingkungan
binaan?”, tujuannya adalah tidak sekedar berfungsi sebagai tempat bernaung
terhadap perubahan cuaca semata, tetapi juga dapat menciptakan rona bagi
kegiatan tertentu, mengingatkan pada orang tentang kegiatan apakah ini?,
menyatakan status, kekuasaan, atau hal-hal pribadi, menampilkan dan mendukung
keyakinan kosmologis, menyampaikan informasi, membantu menetapkan identitas
pribadi atau kelompok, serta mengkiaskan sistem nilai. Semua pengertian ini
sebenanya mencakup satu tujuan hakiki perancangan yaitu peningkatan kualitas
hidup.
Keberhasilan
arsitektur, dinilai bukan pada bentuk akhir perwujudan dan desainnya, melainkan
apakah ia berhasil memberikan pengaruh yang baik terhadap penghuni dan
lingkungan dimana arsitektur itu berada.
Jika saya menjadi seorang arsitek,
saya ingin merancang bangunan yang
berfungsi optimal, efektif, efesien,
serat tidak terjebak dengan hedonisme.saya ingin merancang desain
yang fungsional (guna tidak hanya
berarti bermanfaat, untung materiil belaka, tapi lebih dari itu punya daya yang
menyebabkan kita bisa hidup lebih meningkat), membangun dengan tujuan agar
pengguan bisa segera “menyesuaikan diri” dengan mudah kedalamnya dan mnecapai
kebahagiaandan kepuasan, membentuk matra
(bentuk), dan citra (nilai dan
kualitas) yang khas dan personal,
hingga tercapainya peningkatan kualitas
hidup pengguna rancangan saya.
Arsitektur yang
kita huni saat ini punya peran banyak. Ia merupakan manifestasi dari pandangan
hidup kita sehari-hari, cermin dari kebudayaan kita. Ia juga jadi petunjuk
tingkat perasaan artistik yang kita miliki.
Kebudayaan
(arsitektur dan masyarakat) adalah produk manusia yang berakar pada fenomen
eksternalisasi dan eksternalisasi tersebut didasarkan pada konstitusi biologis
manusia (portman), yaitu kondisi organisme manusia di dunia yang “Built
in-instability” sehingga manusia harus “memanusiakan dirinya” denagn
menciptakan dunianya dengan karyanya. Dengan menciptakan (alat-alat)
arsitektur, ia memperkaya totalitas objek-objek fisik dunia.
Arsitektur suatu
lingkungan budaya pada umumnya berasal/ bersumber/ berkembang dari arsitektur
tradisional yang telah/pernah melembaga dengan mantap dan utuhnya dalam
lingkungan budaya tersebut.
Jika saya menjadi seorang arsitek,
saya ingin merancang berbagai karya arsitektur yang kontekstual, menjunjung
tinggi nilai-nilai lokal (menjaga lokalitas)
yang arif dan penuh makna, menyesuaikan denagn karakter kita sendiri, Negara Indonesia,
terutama kalimantan selatan. Hal in
tidak hanya mengenai perancangan yang “menempelkan” simbol-simbol, ornamen, dan
bentuk tradisional, tapi saya ingin merancang degan “dalam”, tidak sekedar
tempelan, tapi “jiwa”nya yang memiliki ciri ketropisan. Saya juga ingin
mengangkat serta mengambil kearifan nilai-nilai arsitektur Kalimantan selatan.
Arsitektur
sebagai karya teknik harus diresapi dan diperkaya denagn pnghayatan “mistik”.
Atau meminjam karya DR. Soedjatmoko, arsitektur harus turut serta mengembangkan
manusia agar dapat hidup dalam lingkungan komunitas ‘ummat” denagn tata nilai
dan untuk merealisasi tujuan hidup manusia yang luhur sesuai denagn maksud
tuhan menciptakan manusia. Denagn demikian teknik selain harus dipadukan dengan
mistik, juga harus mempunyai komitmen yang jelas kearah pemerdekaan, realisasi
makna dan nilai serta pemenuhan diri manusiawi. Bagi masyarakat tertentu,
arsitektur rumah dan lingkungannya merupakan pengejawantahan dunia kecil “mikro
kosmos” dari penghayatannya terhadap dunia besar “makrokosmos”.
Arsitektur kuno
sangat berkaitan dan bergantung pada pemahaman
dan keyakinan masyarakat denagn ala semesta (kosmo). Penghormatan pada
kearifan dan fenomena alam serat simbolisme ketuhanan dimasukkan ke dalam bangunan
dalam untuk mendukung serta menampilkan dan menggambarkan keyakinan mereka,
bias berupa permainan hierarki ruasng, detailarsitektur, dan wujud bangunan.
Sebagai seorang
muslimah, saya berkewajiban menjalankan perintah-perintah dalan agama islam,
jadi sebagai arsitek muslimah, saya
ingin menjadikan arsitektur sebagai ladang amal, karena dengan melakukan
pembangunan kita bisa mendekatkan diri pada sang pencipta. Saya ingin membangun
arsitektur yang bernafaskan islam.
Arsitektur islam tidak hanya mengenai bentuk-bentuk kubah pada masjid dan
ornament khas islam. Karena esensi citra
itu sendiri dalah berhubungan dengan guna
yang berfungsi secara tepat serta
jiwanya sebagai sebagai bangunan islam.
“Arsitektur yang
baik lahir dari arsitek yang baik, dan arsitektur islami lahir dari arsitek
yang islami pula…”
Masyarakat awam
lebih memahami arsitektur sebagai sesuatu yang berhubungan dengan merancang
bangunan. Oleh karena itu, seringkali mereka mengaitkan arsitektur dengan
bangunan dan tempat tinggal. Sebenarnya pemahaman mereka tidak salah, hanya
saja masih belum tepat karena arsitektur mencakup banyak hal tiak hanya
merancang bangunan.
Jika saya menjadi seorang arsitek,
saya ingin “Memasyarakatkan “ arsitektur
sebagai jalan peningkatan kualitas hidup masyarakat di bidang pembangunan.
Harapan saya
kedepan, semoga Universitas Lambung Mangkurat melahirkan arsitek-arsitek andal
yang diakui di kancah nasional bahkan bila mungkin sampai internasional, dengan
tetap menjaga kekhasan arsitektur Kalimantan selatan.
Tulisan tentang
“jika saya menjadi seorang Arsitek” ini memang kedengaran terlalu idealis dan
tinggi. Namun saya percaya, segala sesuatunya itu bisa diwujudkan satu persatu.
Ini memang MIMPI, namun kata-kata dari guru SMA saya selalu menjadi pelecut
semangat, “kita harus bermimpi, karena mimpi
ada di dunia ini untuk menjadi nyata…”.
Maka saya akan terus bermimpi dan berusaha mewujudkannya.
Tulisan ini
mengungkapkan pemikiran saya yang sederhana, serta harapan-harapan saya
terhadap arsitektur. Semoga hal ini menjadi sebuah jalan serta do’a dari sebuah
pengharapan.
Segala
kekurangan milik saya pribadi, dan kelebihan hanyalah milik Allah SWT.
Wassalam.
WAAAAAHHHH legaaaaa, dan BERSEMANGAT lagi,hehehe
SEMANGAT ARSITEKTUR semua.... ^_^
"Aku terlanjur jatuh cinta dengan Arsitektur, maka akan kujadikan Arsitektur sebagai ladang amal menuju Ridha Mu. Ya Allah... jadikanlah Arsitekturku, Arsitektur yang memberi manfaat, dan jadi kebanggaan bagi diriku sendiri, keluargaku, orang2 sekitarku, dan masyarakat semuanya..."
Susi Susanti Ardiansyah
S_Een ViGree 1771
Universitas Lambung Mangkurat
Teknik Arsitektur
Susi Susanti Ardiansyah
S_Een ViGree 1771
Universitas Lambung Mangkurat
Teknik Arsitektur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar