Kamis, 10 Mei 2012

DREAM OF BE AN ARCHITECT

hoahhh... diantara laporan SPA yang nunggu untuk dikerjakan, aku pengen melegakan pikiran dulu,
istirahat sejenak....^_^
diantara pikiran yang kusut, dan hati yang mulai lemah, mencari cara untuk meng'upgrade' semangat lagi...
Membuka file2 semester awal kuliah, ada tugas yang memberiku suntikan semangat lagi,
tugas ISBD membuat artikel,

DREAM OF BE AN ARCHITECT
Tentang definisi arsitektur berkaitan dengan lingkungan binaan.
Manusia manghabiskan sebagian besar waktunya di dalam lingkungan buatan nya sendiri. Manusia dilahirkan, hidup, beribadah, tidur, makan, menyayangi, membina keluarga, bekerja, belajar, menjadi tua, bahkan wafat di dalam ruangan. Lingkungan binaan manusia ini dalam bentuk rumah tinggal, sekolah, mesjid, rumah sakit, pasar, terminal, kantor, pabrik, dan sebagainya, adalah apa yang kita sebut sebagai arsitektur.
Jadi, arsitektur sebagai lingkungan binaan adalah,
Rancang wadah aktivitas berupa ekspresi dari pemikiran kontekstual terhadap beberapa hal (iklim, sosial, budaya, tempat, waktu, teknologi, dan ekonomi) hingga membentuk suatu pemecahan berupa citra (nilai dan kualitas) dan matra (bentuk), yang diwujudkan perancang wadah tersebut secara tepat guna sesuai kebutuhan serta pemahaman pengguna wadah aktivitas. Hasil akhir dari perancangan wadah aktivitas adalah untuk peningkatan kualitas hidup pengguna.
Jika Saya Menjadi Seorang Arsitek
Pada awalnya saya tak mempunyai kepastian cita-cita dan tujuan dalam hidup. Namun dalam pembelajaran yang saya jalani di teknik Arsitektur (walau perjalanan ini masih terbilang singkat), telah menempa dan membentuk suatu citra dan pemahaman akan pentingnya sebuah tujuan hidup. Akhirnya, seiring berjalannya waktu, tujuan hidup saya mulai tergambar dan menjadi nyata. Karena saya mahasiswa arsitektur, maka saya akan menjalani hidup ini dengan arsitektur. Jika saya menjadi seorang arsitek, bagi saya pada dasarnya adalah pernyataan tentang cita-cita, tujuan hidup, dan konsepsi dari apa yang ingin saya capai.
Arsitektur (bahasa Yunani; Arkhe, sesuatu yang asli, awal, utama otentik; Tektoon= berdiri,stabil, kokoh, stabil statis; Arkhitekton= pembangunan utama, tukang ahli bangunan) dalam arti terbatas maupun Wastu (bahasa Sansekerat Vasthu= norma, tata bangunan, tata ruang, tata seluruh pengejawantahan yang berbentuk) dalam arti total komprehensip selalu datang dari awal, dari inti, galih, jatidiri, pandangan semesta, sikap hidup serta kebudayaan bangsa; dari galaksi keyakinan dasar suatu komunitas, konkrit, historis. Tidak abstrak, tidak seragam untuk segala bangsa maupun kurun zaman, hidup menjalani dinamika dan selalu dalam kancah pembentukan serta pahit manis perjuangan, seperti bahasa. Sebab berarsitektur, mengarsitektur, berwastu, dan mewastu adalah sebentuk bahasa manusia. Ini bermakna bila kita berarsitektur, kita berbahasa dengan ruang dan gatra, dengan garis dan bidang, dengan bahan material dan suasana tempat, sudah sewajarnyalah kita berarsitektur secara budayawan dengan nurani dan tanggung jawab penggunaan bahasa arsitektural yang baik.
Jika saya menjadi seorang arsitek, saya ingin “menerjemahkan” dengan baik sebentuk bahasa manusia (masyarakat) berkaitan dengan arsitektur yang pada dasarnya hanya tersimpan dalam pemikiran mereka tanpa bisa menggambarkan dan merealisasikannya. Sebagai arsitek, saya ingin membentuk arsitektur yang saya rancang menjadi tepat guna (berfungsi) dan memiliki estetika (keindahan) yang didasari atas kejujuran dan kewajaran, karena “keindahan adalah kejujuran”.
Arsitektur adalah proses menciptakan ruang dan lingkungan yang mampu berfungsi dalam kondisi alam. Alam kodrat yang buta (natur) denagn disentuh oleh tangan manusia dan diolah dengan akal budinya dalam kerangka nilai manusiawi berkembang menjadi kebudayaan (kultur) dalam bentuk Arsitektur.
Jika saya menjadi seorang arsitek, saya ingin merancang untuk lingkungan, mencoba untuk mensubstraksi lingkungan dengan pola hidup menjadi sebuah desain. Saya ingin mematahkan pemeo, bahwa “kerusakan alam adalah akibat dari dosa-dosa arsitek”. Sebenarnya pelestarian lingkungan hidup yang paling tepat adalh dengan tak membangun apa-apa. Namun karena kita memang harus melaksanakan pembangunan, kita harus memulai berfikir kreatif dengan membangun tanpa memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Saya ingin membangun dengan memperhatikan efesiensi dan keefektifan pengguna rancangan. Menciptakan lingkungan binaan yang hijau dan kontekstual denagn lingkungan serta menyesuaikan denagn nilai-nilai lokalitas dan tradisional warisan sejarah. Semua ini juga demi pembangunan berkelanjutan.
“Struktur agung dirancang denagn satu tujuan, bertahan mneghadapi waktu. Arsitek yang serius tahu hal ini, jika ia ingin menonjol, ia harus berkonsultasi dengan alam dan memperhatikan cahaya.” Arsitektur sama dengan kedudukan pepohonan, sungai, batu, sawah, patung, manusia, dan apa saja yang ada di jagad ini adalah salah satu “sekrup” yang ikut memutar dan dengan demikian menjaga kelestarian keseimbangan jagad.
Jika saya menjadi seorang arsitek, saya ingin membentuk sebuah arsitektur yang tidak hanya dilihat sebagai objek, tapi sebagaimana seharusnya yaitu sebagai “living Milieu” atau sebagai interaksi sosial alam dan masyarakat di sekitar arsitektur itu.
Pada hakekatnya, arsitektur adalah hidup. Sebagai bagian dari lingkungan hidup, arsitektur dan masyarakat penciptanya saling hidup menghidupi. Arsitektur selalu berubah, tumbuh, berkembang, dan berganti, sesuai dengan kebutuhan dan kesesuaian denagn manusia dan zamannya.
Tujuan arsitektur dapat dipersepsikan “mengapa manusia menciptakan lingkungan binaan?”, tujuannya adalah tidak sekedar berfungsi sebagai tempat bernaung terhadap perubahan cuaca semata, tetapi juga dapat menciptakan rona bagi kegiatan tertentu, mengingatkan pada orang tentang kegiatan apakah ini?, menyatakan status, kekuasaan, atau hal-hal pribadi, menampilkan dan mendukung keyakinan kosmologis, menyampaikan informasi, membantu menetapkan identitas pribadi atau kelompok, serta mengkiaskan sistem nilai. Semua pengertian ini sebenanya mencakup satu tujuan hakiki perancangan yaitu peningkatan kualitas hidup.
Keberhasilan arsitektur, dinilai bukan pada bentuk akhir perwujudan dan desainnya, melainkan apakah ia berhasil memberikan pengaruh yang baik terhadap penghuni dan lingkungan dimana arsitektur itu berada.
Jika saya menjadi seorang arsitek, saya ingin merancang bangunan yang berfungsi optimal, efektif, efesien, serat tidak terjebak dengan hedonisme.saya ingin merancang desain yang fungsional (guna tidak hanya berarti bermanfaat, untung materiil belaka, tapi lebih dari itu punya daya yang menyebabkan kita bisa hidup lebih meningkat), membangun dengan tujuan agar pengguan bisa segera “menyesuaikan diri” dengan mudah kedalamnya dan mnecapai kebahagiaandan kepuasan, membentuk matra (bentuk), dan citra (nilai dan kualitas) yang khas dan personal, hingga tercapainya peningkatan kualitas hidup pengguna rancangan saya.
Arsitektur yang kita huni saat ini punya peran banyak. Ia merupakan manifestasi dari pandangan hidup kita sehari-hari, cermin dari kebudayaan kita. Ia juga jadi petunjuk tingkat perasaan artistik yang kita miliki.
Kebudayaan (arsitektur dan masyarakat) adalah produk manusia yang berakar pada fenomen eksternalisasi dan eksternalisasi tersebut didasarkan pada konstitusi biologis manusia (portman), yaitu kondisi organisme manusia di dunia yang “Built in-instability” sehingga manusia harus “memanusiakan dirinya” denagn menciptakan dunianya dengan karyanya. Dengan menciptakan (alat-alat) arsitektur, ia memperkaya totalitas objek-objek fisik dunia.
Arsitektur suatu lingkungan budaya pada umumnya berasal/ bersumber/ berkembang dari arsitektur tradisional yang telah/pernah melembaga dengan mantap dan utuhnya dalam lingkungan budaya tersebut.
Jika saya menjadi seorang arsitek, saya ingin merancang berbagai karya arsitektur yang kontekstual, menjunjung tinggi nilai-nilai lokal (menjaga lokalitas) yang arif dan penuh makna, menyesuaikan denagn karakter kita sendiri, Negara Indonesia, terutama kalimantan selatan. Hal in tidak hanya mengenai perancangan yang “menempelkan” simbol-simbol, ornamen, dan bentuk tradisional, tapi saya ingin merancang degan “dalam”, tidak sekedar tempelan, tapi “jiwa”nya yang memiliki ciri ketropisan. Saya juga ingin mengangkat serta mengambil kearifan nilai-nilai arsitektur Kalimantan selatan.
Arsitektur sebagai karya teknik harus diresapi dan diperkaya denagn pnghayatan “mistik”. Atau meminjam karya DR. Soedjatmoko, arsitektur harus turut serta mengembangkan manusia agar dapat hidup dalam lingkungan komunitas ‘ummat” denagn tata nilai dan untuk merealisasi tujuan hidup manusia yang luhur sesuai denagn maksud tuhan menciptakan manusia. Denagn demikian teknik selain harus dipadukan dengan mistik, juga harus mempunyai komitmen yang jelas kearah pemerdekaan, realisasi makna dan nilai serta pemenuhan diri manusiawi. Bagi masyarakat tertentu, arsitektur rumah dan lingkungannya merupakan pengejawantahan dunia kecil “mikro kosmos” dari penghayatannya terhadap dunia besar “makrokosmos”.
Arsitektur kuno sangat berkaitan dan bergantung pada pemahaman  dan keyakinan masyarakat denagn ala semesta (kosmo). Penghormatan pada kearifan dan fenomena alam serat simbolisme ketuhanan dimasukkan ke dalam bangunan dalam untuk mendukung serta menampilkan dan menggambarkan keyakinan mereka, bias berupa permainan hierarki ruasng, detailarsitektur, dan wujud bangunan.
Sebagai seorang muslimah, saya berkewajiban menjalankan perintah-perintah dalan agama islam, jadi sebagai arsitek muslimah, saya ingin menjadikan arsitektur sebagai ladang amal, karena dengan melakukan pembangunan kita bisa mendekatkan diri pada sang pencipta. Saya ingin membangun arsitektur yang bernafaskan islam. Arsitektur islam tidak hanya mengenai bentuk-bentuk kubah pada masjid dan ornament khas islam. Karena esensi citra itu sendiri dalah berhubungan dengan guna yang berfungsi secara tepat serta jiwanya sebagai sebagai bangunan islam.
“Arsitektur yang baik lahir dari arsitek yang baik, dan arsitektur islami lahir dari arsitek yang islami pula…”
Masyarakat awam lebih memahami arsitektur sebagai sesuatu yang berhubungan dengan merancang bangunan. Oleh karena itu, seringkali mereka mengaitkan arsitektur dengan bangunan dan tempat tinggal. Sebenarnya pemahaman mereka tidak salah, hanya saja masih belum tepat karena arsitektur mencakup banyak hal tiak hanya merancang bangunan.
Jika saya menjadi seorang arsitek, saya ingin “Memasyarakatkan “ arsitektur sebagai jalan peningkatan kualitas hidup masyarakat di bidang pembangunan.
Harapan saya kedepan, semoga Universitas Lambung Mangkurat melahirkan arsitek-arsitek andal yang diakui di kancah nasional bahkan bila mungkin sampai internasional, dengan tetap menjaga kekhasan arsitektur Kalimantan selatan.
Tulisan tentang “jika saya menjadi seorang Arsitek” ini memang kedengaran terlalu idealis dan tinggi. Namun saya percaya, segala sesuatunya itu bisa diwujudkan satu persatu. Ini memang MIMPI, namun kata-kata dari guru SMA saya selalu menjadi pelecut semangat, “kita harus bermimpi, karena mimpi ada di dunia ini untuk menjadi nyata…”. Maka saya akan terus bermimpi dan berusaha mewujudkannya.
Tulisan ini mengungkapkan pemikiran saya yang sederhana, serta harapan-harapan saya terhadap arsitektur. Semoga hal ini menjadi sebuah jalan serta do’a dari sebuah pengharapan.
Segala kekurangan milik saya pribadi, dan kelebihan hanyalah milik Allah SWT.
Wassalam.

WAAAAAHHHH legaaaaa, dan BERSEMANGAT lagi,hehehe
SEMANGAT ARSITEKTUR semua.... ^_^

"Aku terlanjur jatuh cinta dengan Arsitektur, maka akan kujadikan Arsitektur sebagai ladang amal menuju Ridha Mu. Ya Allah... jadikanlah Arsitekturku, Arsitektur yang memberi manfaat, dan jadi kebanggaan bagi diriku sendiri, keluargaku, orang2 sekitarku, dan masyarakat semuanya..." 
Susi Susanti Ardiansyah
S_Een ViGree 1771 


Universitas Lambung Mangkurat 
Teknik Arsitektur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar