Kamis, 21 Juni 2012

ECO-TECH SWAMP HOUSE (STUPA 02)

ALHAMDULILLAH STUPA 02 dah dilewati.^_^
 Jazakumullah khairan katsiran, alhamdulillah, aku sangat bersyukur pada-Nya, yang telah memberikan anugerah akal untuk memperbaiki tiap kesalahan yang kulakukan, telah memberi anugerah cinta, hingga bisa merasakan kasih sayang yang melimpah, yang terus memberiku kekuatan saat aku futur...
Beberapa kali aku merasa jatuh, namun aku terus berusaha bangkit, dengan segala daya yang kupunya dan perkuatan dari orang2 sekelilingku yang terus memberiku dukungan...^^
sebelumnya, tentu ucapan terima kasih kepada beberapa orang yang amat banyak membantu dalam desain nie,,
1. kepada keluargaku, mama yang selalu mendenagrkan keluh kesahku, abah yang selalu mendoakanku di tiap tahajudnuya, ade ku yang membuatku tertawa...kalian ada untukku, dan aku untuk kalian.^_^
2. kepada bu Dila Nadya Andini, pembimbingku yang luar biasa, makasih bu atas saran2 dan krutiknya. moga ke depannya desain saya lebih matang.
3. kepada bu Kurnia Widyastuti, makasih banyak bu atas kritikannya, berguna untuk desain selanjutnya.
4. kepada teman 1 kostku, teman2 terbaikku, rama dan putri... jangan kebanyakan tidur lagi di SPA 3,heheheee. kita berjuang lebih keras. SEMANGAT
5. kepada teman2 diskusiku yang hebat... (ka endar, Stefhanie, dani),,,makasih atas saran2 desainnya...^_^. SEMANGAT ARSITEKTUR
6. kepada ka fidya, makasih info2 "manajemen perairan" dan jadwal kuliahnya..hhhhaaaaaa
7. kepada sadam, yang selalu memberikan kata2 lucu saat lun hampir menyerah pada kantuk.hahaaa..
setelah daftar yang cukup panjang, ini lah STUPA 02 saya,

ECO-TECH SWAMP HOUSE
LOKASI: JL. AR RAUDHA BANJARMASIN
LUAS LAHAN: 17MX 18M



wuaaahh setelah melewati malam2 begadang yang melelahkan, akhirnya inilah hasilnya,heheheee
semuanya gambar tangan, karena memang Arsitektur UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT KALSEL menghargai gambar manual..heheee.. pke freehand sketch kaya gni lebih dapet soulnya..hahahaaaaaaaaa
walau sampai beberapa kali drop, tapi menguatkan hati lagi
MOGA BERMANFAAT DAN SEMANGAT ARSITEKTUR...^_^



"Aku terlanjur jatuh cinta dengan Arsitektur, maka akan kujadikan Arsitektur sebagai ladang amal menuju Ridha Mu. Ya Allah... jadikanlah Arsitekturku, Arsitektur yang memberi manfaat, dan jadi kebanggaan bagi diriku sendiri, keluargaku, orang2 sekitarku, dan masyarakat semuanya..." 
Susi Susanti Ardiansyah
S_Een ViGree 1771 

Kamis, 10 Mei 2012

DREAM OF BE AN ARCHITECT

hoahhh... diantara laporan SPA yang nunggu untuk dikerjakan, aku pengen melegakan pikiran dulu,
istirahat sejenak....^_^
diantara pikiran yang kusut, dan hati yang mulai lemah, mencari cara untuk meng'upgrade' semangat lagi...
Membuka file2 semester awal kuliah, ada tugas yang memberiku suntikan semangat lagi,
tugas ISBD membuat artikel,

DREAM OF BE AN ARCHITECT
Tentang definisi arsitektur berkaitan dengan lingkungan binaan.
Manusia manghabiskan sebagian besar waktunya di dalam lingkungan buatan nya sendiri. Manusia dilahirkan, hidup, beribadah, tidur, makan, menyayangi, membina keluarga, bekerja, belajar, menjadi tua, bahkan wafat di dalam ruangan. Lingkungan binaan manusia ini dalam bentuk rumah tinggal, sekolah, mesjid, rumah sakit, pasar, terminal, kantor, pabrik, dan sebagainya, adalah apa yang kita sebut sebagai arsitektur.
Jadi, arsitektur sebagai lingkungan binaan adalah,
Rancang wadah aktivitas berupa ekspresi dari pemikiran kontekstual terhadap beberapa hal (iklim, sosial, budaya, tempat, waktu, teknologi, dan ekonomi) hingga membentuk suatu pemecahan berupa citra (nilai dan kualitas) dan matra (bentuk), yang diwujudkan perancang wadah tersebut secara tepat guna sesuai kebutuhan serta pemahaman pengguna wadah aktivitas. Hasil akhir dari perancangan wadah aktivitas adalah untuk peningkatan kualitas hidup pengguna.
Jika Saya Menjadi Seorang Arsitek
Pada awalnya saya tak mempunyai kepastian cita-cita dan tujuan dalam hidup. Namun dalam pembelajaran yang saya jalani di teknik Arsitektur (walau perjalanan ini masih terbilang singkat), telah menempa dan membentuk suatu citra dan pemahaman akan pentingnya sebuah tujuan hidup. Akhirnya, seiring berjalannya waktu, tujuan hidup saya mulai tergambar dan menjadi nyata. Karena saya mahasiswa arsitektur, maka saya akan menjalani hidup ini dengan arsitektur. Jika saya menjadi seorang arsitek, bagi saya pada dasarnya adalah pernyataan tentang cita-cita, tujuan hidup, dan konsepsi dari apa yang ingin saya capai.
Arsitektur (bahasa Yunani; Arkhe, sesuatu yang asli, awal, utama otentik; Tektoon= berdiri,stabil, kokoh, stabil statis; Arkhitekton= pembangunan utama, tukang ahli bangunan) dalam arti terbatas maupun Wastu (bahasa Sansekerat Vasthu= norma, tata bangunan, tata ruang, tata seluruh pengejawantahan yang berbentuk) dalam arti total komprehensip selalu datang dari awal, dari inti, galih, jatidiri, pandangan semesta, sikap hidup serta kebudayaan bangsa; dari galaksi keyakinan dasar suatu komunitas, konkrit, historis. Tidak abstrak, tidak seragam untuk segala bangsa maupun kurun zaman, hidup menjalani dinamika dan selalu dalam kancah pembentukan serta pahit manis perjuangan, seperti bahasa. Sebab berarsitektur, mengarsitektur, berwastu, dan mewastu adalah sebentuk bahasa manusia. Ini bermakna bila kita berarsitektur, kita berbahasa dengan ruang dan gatra, dengan garis dan bidang, dengan bahan material dan suasana tempat, sudah sewajarnyalah kita berarsitektur secara budayawan dengan nurani dan tanggung jawab penggunaan bahasa arsitektural yang baik.
Jika saya menjadi seorang arsitek, saya ingin “menerjemahkan” dengan baik sebentuk bahasa manusia (masyarakat) berkaitan dengan arsitektur yang pada dasarnya hanya tersimpan dalam pemikiran mereka tanpa bisa menggambarkan dan merealisasikannya. Sebagai arsitek, saya ingin membentuk arsitektur yang saya rancang menjadi tepat guna (berfungsi) dan memiliki estetika (keindahan) yang didasari atas kejujuran dan kewajaran, karena “keindahan adalah kejujuran”.
Arsitektur adalah proses menciptakan ruang dan lingkungan yang mampu berfungsi dalam kondisi alam. Alam kodrat yang buta (natur) denagn disentuh oleh tangan manusia dan diolah dengan akal budinya dalam kerangka nilai manusiawi berkembang menjadi kebudayaan (kultur) dalam bentuk Arsitektur.
Jika saya menjadi seorang arsitek, saya ingin merancang untuk lingkungan, mencoba untuk mensubstraksi lingkungan dengan pola hidup menjadi sebuah desain. Saya ingin mematahkan pemeo, bahwa “kerusakan alam adalah akibat dari dosa-dosa arsitek”. Sebenarnya pelestarian lingkungan hidup yang paling tepat adalh dengan tak membangun apa-apa. Namun karena kita memang harus melaksanakan pembangunan, kita harus memulai berfikir kreatif dengan membangun tanpa memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Saya ingin membangun dengan memperhatikan efesiensi dan keefektifan pengguna rancangan. Menciptakan lingkungan binaan yang hijau dan kontekstual denagn lingkungan serta menyesuaikan denagn nilai-nilai lokalitas dan tradisional warisan sejarah. Semua ini juga demi pembangunan berkelanjutan.
“Struktur agung dirancang denagn satu tujuan, bertahan mneghadapi waktu. Arsitek yang serius tahu hal ini, jika ia ingin menonjol, ia harus berkonsultasi dengan alam dan memperhatikan cahaya.” Arsitektur sama dengan kedudukan pepohonan, sungai, batu, sawah, patung, manusia, dan apa saja yang ada di jagad ini adalah salah satu “sekrup” yang ikut memutar dan dengan demikian menjaga kelestarian keseimbangan jagad.
Jika saya menjadi seorang arsitek, saya ingin membentuk sebuah arsitektur yang tidak hanya dilihat sebagai objek, tapi sebagaimana seharusnya yaitu sebagai “living Milieu” atau sebagai interaksi sosial alam dan masyarakat di sekitar arsitektur itu.
Pada hakekatnya, arsitektur adalah hidup. Sebagai bagian dari lingkungan hidup, arsitektur dan masyarakat penciptanya saling hidup menghidupi. Arsitektur selalu berubah, tumbuh, berkembang, dan berganti, sesuai dengan kebutuhan dan kesesuaian denagn manusia dan zamannya.
Tujuan arsitektur dapat dipersepsikan “mengapa manusia menciptakan lingkungan binaan?”, tujuannya adalah tidak sekedar berfungsi sebagai tempat bernaung terhadap perubahan cuaca semata, tetapi juga dapat menciptakan rona bagi kegiatan tertentu, mengingatkan pada orang tentang kegiatan apakah ini?, menyatakan status, kekuasaan, atau hal-hal pribadi, menampilkan dan mendukung keyakinan kosmologis, menyampaikan informasi, membantu menetapkan identitas pribadi atau kelompok, serta mengkiaskan sistem nilai. Semua pengertian ini sebenanya mencakup satu tujuan hakiki perancangan yaitu peningkatan kualitas hidup.
Keberhasilan arsitektur, dinilai bukan pada bentuk akhir perwujudan dan desainnya, melainkan apakah ia berhasil memberikan pengaruh yang baik terhadap penghuni dan lingkungan dimana arsitektur itu berada.
Jika saya menjadi seorang arsitek, saya ingin merancang bangunan yang berfungsi optimal, efektif, efesien, serat tidak terjebak dengan hedonisme.saya ingin merancang desain yang fungsional (guna tidak hanya berarti bermanfaat, untung materiil belaka, tapi lebih dari itu punya daya yang menyebabkan kita bisa hidup lebih meningkat), membangun dengan tujuan agar pengguan bisa segera “menyesuaikan diri” dengan mudah kedalamnya dan mnecapai kebahagiaandan kepuasan, membentuk matra (bentuk), dan citra (nilai dan kualitas) yang khas dan personal, hingga tercapainya peningkatan kualitas hidup pengguna rancangan saya.
Arsitektur yang kita huni saat ini punya peran banyak. Ia merupakan manifestasi dari pandangan hidup kita sehari-hari, cermin dari kebudayaan kita. Ia juga jadi petunjuk tingkat perasaan artistik yang kita miliki.
Kebudayaan (arsitektur dan masyarakat) adalah produk manusia yang berakar pada fenomen eksternalisasi dan eksternalisasi tersebut didasarkan pada konstitusi biologis manusia (portman), yaitu kondisi organisme manusia di dunia yang “Built in-instability” sehingga manusia harus “memanusiakan dirinya” denagn menciptakan dunianya dengan karyanya. Dengan menciptakan (alat-alat) arsitektur, ia memperkaya totalitas objek-objek fisik dunia.
Arsitektur suatu lingkungan budaya pada umumnya berasal/ bersumber/ berkembang dari arsitektur tradisional yang telah/pernah melembaga dengan mantap dan utuhnya dalam lingkungan budaya tersebut.
Jika saya menjadi seorang arsitek, saya ingin merancang berbagai karya arsitektur yang kontekstual, menjunjung tinggi nilai-nilai lokal (menjaga lokalitas) yang arif dan penuh makna, menyesuaikan denagn karakter kita sendiri, Negara Indonesia, terutama kalimantan selatan. Hal in tidak hanya mengenai perancangan yang “menempelkan” simbol-simbol, ornamen, dan bentuk tradisional, tapi saya ingin merancang degan “dalam”, tidak sekedar tempelan, tapi “jiwa”nya yang memiliki ciri ketropisan. Saya juga ingin mengangkat serta mengambil kearifan nilai-nilai arsitektur Kalimantan selatan.
Arsitektur sebagai karya teknik harus diresapi dan diperkaya denagn pnghayatan “mistik”. Atau meminjam karya DR. Soedjatmoko, arsitektur harus turut serta mengembangkan manusia agar dapat hidup dalam lingkungan komunitas ‘ummat” denagn tata nilai dan untuk merealisasi tujuan hidup manusia yang luhur sesuai denagn maksud tuhan menciptakan manusia. Denagn demikian teknik selain harus dipadukan dengan mistik, juga harus mempunyai komitmen yang jelas kearah pemerdekaan, realisasi makna dan nilai serta pemenuhan diri manusiawi. Bagi masyarakat tertentu, arsitektur rumah dan lingkungannya merupakan pengejawantahan dunia kecil “mikro kosmos” dari penghayatannya terhadap dunia besar “makrokosmos”.
Arsitektur kuno sangat berkaitan dan bergantung pada pemahaman  dan keyakinan masyarakat denagn ala semesta (kosmo). Penghormatan pada kearifan dan fenomena alam serat simbolisme ketuhanan dimasukkan ke dalam bangunan dalam untuk mendukung serta menampilkan dan menggambarkan keyakinan mereka, bias berupa permainan hierarki ruasng, detailarsitektur, dan wujud bangunan.
Sebagai seorang muslimah, saya berkewajiban menjalankan perintah-perintah dalan agama islam, jadi sebagai arsitek muslimah, saya ingin menjadikan arsitektur sebagai ladang amal, karena dengan melakukan pembangunan kita bisa mendekatkan diri pada sang pencipta. Saya ingin membangun arsitektur yang bernafaskan islam. Arsitektur islam tidak hanya mengenai bentuk-bentuk kubah pada masjid dan ornament khas islam. Karena esensi citra itu sendiri dalah berhubungan dengan guna yang berfungsi secara tepat serta jiwanya sebagai sebagai bangunan islam.
“Arsitektur yang baik lahir dari arsitek yang baik, dan arsitektur islami lahir dari arsitek yang islami pula…”
Masyarakat awam lebih memahami arsitektur sebagai sesuatu yang berhubungan dengan merancang bangunan. Oleh karena itu, seringkali mereka mengaitkan arsitektur dengan bangunan dan tempat tinggal. Sebenarnya pemahaman mereka tidak salah, hanya saja masih belum tepat karena arsitektur mencakup banyak hal tiak hanya merancang bangunan.
Jika saya menjadi seorang arsitek, saya ingin “Memasyarakatkan “ arsitektur sebagai jalan peningkatan kualitas hidup masyarakat di bidang pembangunan.
Harapan saya kedepan, semoga Universitas Lambung Mangkurat melahirkan arsitek-arsitek andal yang diakui di kancah nasional bahkan bila mungkin sampai internasional, dengan tetap menjaga kekhasan arsitektur Kalimantan selatan.
Tulisan tentang “jika saya menjadi seorang Arsitek” ini memang kedengaran terlalu idealis dan tinggi. Namun saya percaya, segala sesuatunya itu bisa diwujudkan satu persatu. Ini memang MIMPI, namun kata-kata dari guru SMA saya selalu menjadi pelecut semangat, “kita harus bermimpi, karena mimpi ada di dunia ini untuk menjadi nyata…”. Maka saya akan terus bermimpi dan berusaha mewujudkannya.
Tulisan ini mengungkapkan pemikiran saya yang sederhana, serta harapan-harapan saya terhadap arsitektur. Semoga hal ini menjadi sebuah jalan serta do’a dari sebuah pengharapan.
Segala kekurangan milik saya pribadi, dan kelebihan hanyalah milik Allah SWT.
Wassalam.

WAAAAAHHHH legaaaaa, dan BERSEMANGAT lagi,hehehe
SEMANGAT ARSITEKTUR semua.... ^_^

"Aku terlanjur jatuh cinta dengan Arsitektur, maka akan kujadikan Arsitektur sebagai ladang amal menuju Ridha Mu. Ya Allah... jadikanlah Arsitekturku, Arsitektur yang memberi manfaat, dan jadi kebanggaan bagi diriku sendiri, keluargaku, orang2 sekitarku, dan masyarakat semuanya..." 
Susi Susanti Ardiansyah
S_Een ViGree 1771 


Universitas Lambung Mangkurat 
Teknik Arsitektur

Minggu, 06 Mei 2012

KRITIK ARSITEKTUR

Assalamualaikum Wr. Wb.
Saya mau membagi lagi tentang kuliah saya.
ini adalah tugas kuliah kritik arsitektur, mata kuliah pilihan..
Kritik yang saya buat adalah kritik normatif, sejujurnya saya kesulitan mencari contoh2 kritik, menbaca buku2 Avianti Armand, membuka kembali buku catanese_snyder 'introduction to architecture', memberi saya inspirasi.^_^
Tak lupa saya ucapkan pada teman diskusi saya yang luar biasa... walau komentarnya sedikit2, tapi tetap membantu.. (maaf selalu mengganggu waktu anda...^_^,hehehe... makasih banyak untuk "ruko"nya.hehehehe)
tidak perlu panjang lebar, ini kritik normatif saya.

Kasus: Membuat kritik bangunan dari hotel Permata In sampai Bundaran Simp. 4 Banjarbaru Kalimantan Selatan
fokus saya: Bangunan komersil


Sebuah kritik
tentang toko Arsila dan kaitannya dengan beberapa tipikal bangunan komersil
Bangunan komersil bagalmanapun tak dapat melepaskan diri dari persepsi masyarakat. Persepsi yang muncul dari bentuk bangunan, akan memunculkan kesan-kesan yang dibutuhkan bangunan tersebut sebagai pesan agar diketahui eksistensinya oleh masyarakat.
Bangunan komersil memiliki beberapa tipikal dasar yang menjadi patokan rata-rata untuk memenuhi kejelasan fungsi bangunan.
1.     Geometri dasar kotak menjadi bentuk rata-rata bangunan komersil. Bentuk yang simple, bisa memaksimalkan penggunaan ruang, serta kemudahan konstruksi.
2.     Atap datar, penggunaannya saat ini memang mendomonasi dan masyarakat sekarang mempersepsikan bangunan komersil dengannya. Alas an penggunaan atap datar yang paling mendasar adalah kemungkina pengembanga bangunan tersebut kedepannya (penambahan tingkat bangunan)
3.     Warna sebagai salah satu unsur bentuk dapat memperjelas peran fungsi yang bdisampaikan bentuk bangunan. Ada tipikal penggunaan warna cerah atau bahkan terkesan norak dengan warnanya yang ngejreng  untuk bangunan komersil.dengan alas an warna-warna cerah dapat cepat mempengaruhi visual, hingga masyarakat sebagai pengamat mudah tertarik untuk datang ke toko.
4.     Penggunaan etalase menjadi hal dasar untuk memperjelas fungsi komersil. Bangunan dengan etalase lebar membuat  pengamat dari luar mudah mengetahui fungsi bangunan tersebut. Barang-barang yang di display terlihat, hingga membangkitkan pengamat untuk singgah dan memeriksa isi toko lebih lanjut. Penggunaan etalase juga bisa menggantikan fungsi plang nama. Jadi tak perlu plang nama besar untuk menyatakan bahwa dia adalah toko roti misalnya, dengan etalase besar yang memperlihatkan display roti, orang akan langsung tau itu toko roti.
Toko roti Arsila sebagai bangunan komersil juga memasukkan pertimbangan-pertimbangan tipikal dasar sebuah toko yang telah dijabarkan diatas.
Menariknya, untuk poin 1 Arsila tidak hanya berhenti di ‘kotak’ sebagai penerapan bentuk yang terlalu lugu. Bentuk kotak dipakai sebagai bentuk dasar yang dapat diolah lebih lanjut, sehingga melahirkan bentuk-bentuk yang lebih bervariasi. Arsila memadukan potensi lengkung tapak untuk memodifikasi bentuk kotak. Hingga bentuk bangunan Arsila  walau keseluruhannya kotak, tapi ada dinamisasi fasad yaitu bagian depan bangunan yang melengkung mengikuti lengkung jalan dan bundaran.
Untuk poin 2, tipikal atap datar juga diterapkan oleh Arsila. Walau alasan membuatnya berbeda. Atap  datar Arsila tidak di maksudkan untuk kemungkinan pengembangan bangunan. Tapi lebih kepada mengikuti tipikal atap-atap toko di sekitarnya.
Penerapan poin 3 oleh Arsila bisa langsung terlihat jelas. Warna bangunan yang cerah, didominasi kuning dengan aksen merah, membuatnya mudah terlihat dari jarak yang jauh. Merupakan ciri khas Arsila.
Yang tidak diterapkan adalah poin ke 3. Arsila tidak menggunakan etalase, hanya dinding massif yang mengelilinginya. Ini merupakan kesalahan yang cukup penting. Kejelasan fungsinya tidak dimaksimalkan dengan memanfaatkan fungsi etalase. Malah yang terjadi adalah penerapan metaphora yang terlalu lugas dan langsung. Terlihat dari besarnya sculpture roti-roti dan plang nama toko.
Memang methapora langsung seperti ini paling efektif untuk mencirikan bangunan, tapi membuat fasad menjadi hampa dan mengganggu pemandangan.
Susi susanti (h1b110025)
Teknik Arsitektur Universitas Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan

naaaahhh gimana semua?
nilainya cukup bagus, membantu memplongkan beban tugas yang masih numpuk..hehehe
bulan ini sungguh berat... berusaha kuat, tapi ternyata sedikit berefek ke badan... Aku sakit beberapa kali, jarang karate malah sakit,hehehe
ada beberapa hal yang membuat saya 'down', tapi ada beberapa hal yang membuat saya kuat...
dan lagi2 jatuh...huhuhu
tapi SEMANGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAATTTTT
Alhamdulillah...
 Innallaha ma anaa...
SEMANGAT ARSITEKTUR!!!!!!

"Aku terlanjur jatuh cinta dengan Arsitektur, maka akan kujadikan Arsitektur sebagai ladang amal menuju Ridha Mu. Ya Allah... jadikanlah Arsitekturku, Arsitektur yang memberi manfaat, dan jadi kebanggaan bagi diriku sendiri, keluargaku, orang2 sekitarku, dan masyarakat semuanya..." 
Susi Susanti Ardiansyah
S_Een ViGree 1771
 

Minggu, 29 April 2012

ARSITEKTUR TROPIS, KONSEP ATAU KEWAJIBAN?

ARSITEKTUR TROPIS, KONSEP ATAU  KEWAJIBAN?

Dulu saat mengelilingi jalan di kampung halaman, masih nda ngeh dengan bangunan di sekitarnya, yang terlihat hanyalah, ibu-ibu yang ngobrol bareng sambil nunggu paman sayur lewat.
Setelah kuliah di arsitektur, pulang kampung, sok2 ngamatin bangunannya,ckckck...
Tapi emang, aku baru sadar bahwa saat kita berada di kampung, berada di rumah bersama keluarga, tak kepikiran dengan konsep2 termal, radiasi matahari yang masuk, pencahayaan alami atau yang lainnya lagi...
ku berada di antara rumah2 kampung sederhana, ibu2 yang ngobrol sambil nunggu paman sayur, anak2 yang main gobak sodor di halaman dengan riang... sementara itu rumah sejuk, dan terang alami...
ku mendapati kenyataan yang mengagumkan, tanpa perlu ANALISIS CURAH HUJAN, rumah2 disana sudah menerapkan arifnya atap pelana dan teritisan lebar, tanpa perlu ANALISIS THERMAL, mereka dah dengan bijaknya membuat jendela super lebar untuk aliran angin.. nda perlu make ANALISIS MATAHARI, mereka dah menerapakan shadding2 alami dengan membuat kanopi sederhana diatas bukaan... tanpa perlu ANALISIS TAPAK berlebihan, mereka dah menerapkan ruang terbuka yang lebar di halaman...
apakah kalian pernah berpikir, ARSITEKTUR TROPIS itu nda usah dianalisis2 ato di konsep pun, jika kita mau MEMANDANG alam kita ini, dia akan muncul denagn arifnya pada tiap bangunan... dia sudah menjadi hal yang paling essensial bagi perancangan, kita berada di daerah tropis, nda perlu berbusa2 ngejelasin konsep tropis, karena kita harus sadar, bila kita ngambil resiko untuk mengabaikan hal dasar ini, maka yang jadi hanyalah kehancuran...
arsitektur tropis muncul dengan sendirinya, jika kita "buka hati" kita untuk menghiraukan alam, menjadikannya "bagian keseharian dan kehidupan" kita, dan jika kita merasakan betapa nikmatnya "bercumbu" dengan alam...^_^

...aku terlanjur jatuh cinta pada arsitektur, maka akan kubuat cintaku ini menuju Ridha-Mu. Ya ALLah jadikanlah arsitekturku sebagai ladang amal bagiku. Yang bisa aku, keluargaku, teman2ku, masyarakat sekitarku, orang2 yang mendukungku, dan manusia di bumi seluruhnya banggakan, dan rasakan manfaatnya...

by Susi Susanti Ardiansyah

Kamis, 15 Maret 2012

Octagonal Stationery

Ini adalah post pertamaku,hehe
dah lama mau share tugas-tugas kuliahku, tapi nda sempat terus...
ini adalah tugas Studio Perancangan Arsitektur 1, ngerjakannya dengan setengah hati, (akhirnya aku nda sempat ngumpul maket.huhuhuhehe). aku mau ngucapin terimakasih pada semua yang telah banyak membantu dalam perancangan stationery ini.^_^
pada bu Widya yang sabar membimbingku, pada rama, putri yang sabar mendengar keluh kesahku, pada dani dan stephanie yang mau jadi teman diskusiku...
kita berjuang lebih keras... SEMANGAT.....

ini dia tugasku, hehe maaf ya kalo jelek, ambil positifnya, buang negatifnya
 OCTAGONAL STATINERY
Lokasi: Universitas Lambung Mangkurat Kalimantan selatan
Luas lahan: 600m persegi



dengan dikelilingi 4 jalan, hingga view yang ditampilkan benar-benar strategis...

aku pengen menjelaskan konsepnya,
bentukan segi delapan muncul berdasarkan analisis lahan sendiri.
permasalahan yang paling krusial adalah bagaimana toko yang dibangun tidak akan terkesan memunggungi salah satu jalan. view dari segala arah menuntut fasad ke segala arah.
untuk perletakan ruang2nya berdasarkan analisis matahari, angin dan pencapaian.





lokasi bangunan berada di dalam Universitas Lambung Mangkurat sendiri, pertemuan antar fakultas unlam Banjarbaru.
sebelah kiri dan kanan lahan juga di bangun toko lain, jadi bangunan perlu di tinggikan agar tidak tenggelam oleh toko lain. maka saya bermain di atap.
kalau di lihat-lihat atapnya mirip atap tradisional kan?hehehe... karena atap yang bertumpang-tumpang itulah maka bangunan ini jelas terlihat...
nie potongan bangunannya...
halaaaah ini namanya mgepost laporan perancangan.wkwkwkw